Digital Music
A. Produksi Musik Digital
Proses produksi musik sudah dilakukan oleh manusia jauh sebelum ditemukan istilah musik. proses produksi musik berawal dari sebuah ide penciptaan hingga karya musik tersebut diperdengarkan. produksi musik digital merupakan proses penciptaan musik di mana data hasil rekaman suara berupa data digital. Diketahui hasil rekaman suara berupa data digital pertama kali ditemukan pada tahun 1943 oleh para teknisi Bell Labs untuk keperluan perang dunia. Teknologi musik digital baru digunakan oleh industri musik pada Januari 1971 melalui proyek kerjasama antara teknisi Denon sebuah manufaktur perangkat rekaman dengan radio NHK Nippon Hoso Kyokai. Musik komersil berformat digital pertama kali yang tercipta pada proyek tersebut adalah sebuah lagu jazz berjudul “Something” dari Steve Marcus dan Jiroh Inagaki
B. Distribusi Musik Digital
Distribusi musik adalah penghubung antara rekaman Anda yang sudah selesai dan penggemar masa depan Anda. Distribusi adalah bagian penting dari promosi musik. distribusi musik digital telah menjadi pusat perhatian. Digital melampaui penjualan media fisik untuk pertama kalinya pada tahun 2015.
Sebagai seorang seniman, distribusi digital telah menjadi suatu keharusan untuk menjangkau semua penggemar potensial. Tujuan dari distribusi digital adalah untuk mendapatkan musik Anda di iTunes, Spotify, Google Play, dan platform streaming lainnya serta toko musik digital.
Anggap saja seperti toko kaset digital Setelah kita memasukkan musik ke dalamnya, orang-orang dapat melakukan streaming, mengunduh, dan membeli musik kita. Sebagai gantinya, kita menerima royalti tergantung pada bagaimana dan di mana musik kita didengarkan. Jadi apa yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk pengiriman dan pembuatan belum lagi banyak biaya di muka kini semudah dan secepat beberapa klik.
C. Konsumsi Musik Digital
Sejak maraknya penggunaan internet, setidaknya dua dekade terakhir, banyak hal dan cara yang telah berubah untuk menikmati sesuatu. Sebagai contoh (dan ini menjadi contoh yang paling klise) adalah cara kita mengirim pesan dan berkomunikasi dengan orang lain yang berkilo-kilo jauhnya terpisah. Dulu sebelum internet dan gawai pintar ramai digunakan, seseorang menulis surat untuk dapat bertukar kabar dengan sanak saudara yang terpisah. Bandingkan dengan sekarang. Informasi sudah tidak bisa dibendung dan setiap hari, sekurang-kurangnya, selalu ada notifikasi di aplikasi pesan instan seperti WhatsApp yang muncul.
Tidak terbatas pada online messaging yang mengubah cara kita berkomunikasi, cara kita mendengarkan musik pun sedikit banyak telah berubah. Bagaimana tidak? Sekali lagi, jauh satu abad sebelum gawai pintar dan internet merajalela seperti sekarang, orang-orang mendengarkan musik menggunakan alat yang disebut phonograph (fonograf) – alat untuk merekam dan memainkan musik. Thomas Edison, seorang jenius dari Amerika, disebut sebagai orang pertama yang menemukan phonograph pada 1877. Namun begitu, kualitas suara yang dihasilkan dari alat tersebut tidak dapat dikatakan bagus.
Berakhirnya 2019 menandai suatu permulaan baru bagi siapapun tak terkecuali dunia hiburan, khususnya musik. Dan sekali lagi, dengan cara mendengarkan musik yang telah berubah, pecinta musik kian dimanjakan untuk memilih musik apa yang ingin mereka dengar.
Hasil survei yang dilakukan dan diterbitkan oleh IFPI berjudul “Music Listening 2019” pada 24 September 2019 lalu menunjukkan 89% responden mengaku mendengarkan musik melalui layanan streaming on-demand. Data diambil dari 21 negara dengan populasi usia 16 sampai 64 tahun. Hal itu menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sekarang telah mendengarkan musik melalui layanan streaming.
Survei lain yang dilakukan di Amerika Serikat dan dilaporkan oleh Buzz Angle Music yang berjudul “U.S Music Industry Consumption” menyebutkan bahwa angka on-demand streaming di AS pada 2019 mencapai total 1 triliun (1.010.0000.000). Angka tersebut naik sekitar 25% dari tahun 2018 dengan 809.5 miliar stream. Angka 1 triliun streams tersebut merupakan rekor baru dalam dunia industri musik Amerika Serikat.
Hasil lain dari survei IFPI menunjukkan bahwa pada tahun 2018, waktu yang digunakan untuk mendengarkan musik secara rata-rata adalah 17.8 jam. Sedangkan rerata waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan musik perhari adalah 2.6 jam yang hal sama dengan mendengarkan 52 lagu berdurasi 3 menit.
IFPI juga menemukan rata-rata waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan musik menggunakan layanan audio streaming setiap minggunya adalah 4 jam (4 jam/minggu). Sedangkan, durasi yang dihabiskan untuk mendengarkan musik melalui layanan video streaming sebanyak 3.5 jam setiap minggunya. Sebanyak 77 persen dari responden menggunakan YouTube sebagai layanan streaming video musik.
D. Perbedaan Dunia Musik Sebelum Era Digital dan Pada Saat Era Digital
Jauh satu abad sebelum gawai pintar dan internet merajalela seperti sekarang, orang-orang mendengarkan musik menggunakan alat yang disebut phonograph (fonograf) – alat untuk merekam dan memainkan musik. Thomas Edison, seorang jenius dari Amerika, disebut sebagai orang pertama yang menemukan phonograph pada 1877. Namun begitu, kualitas suara yang dihasilkan dari alat tersebut tidak dapat dikatakan bagus.
Pada sekitar tahun 1880an di Laboratorium Volta Georgetown, Washington, Alexander Graham Bell membuat pengembangan dari phonograph dan memperkenalkan graphophone. Istilah terakhir merujuk pada sebuah alat atau mesin untuk mereproduksi suara dan musik yang direkam pada piringan hitam.
Lalu setelahnya vinyl, atau yang di Indonesia disebut piringan hitam, mulai marak digunakan. Sekarang piringan hitam sudah menjadi barang langka namun, pada beberapa tahun terakhir, minat untuk mendengarkan piringan hitam pada kalangan muda atau milenial mulai tumbuh kembali (akan dibahas di bawah).
Pada 1963 Phillips di Hasselt, Belgia memperkenalkan Compact Cassette atau secara sederhana disebut sebagai kaset, dan mulai digunakan untuk merekam dan mendengarkan musik. Kaset memainkan musik dari kiri ke kanan dan ketika satu sisi sudah habis maka harus dibalik untuk mendengarkan musik atau rekaman yang ada di sisi lain. Biasanya, sisi pertama pada kaset disebut side A, dan sisi kedua disebut side B. Lagu dari band legendaris Rolling Stones “(I Can’t Get No ) Satisfaction” dan “Nevermind” dari Nirvana mungkin tidak akan terdengar jika tak “ditolong” oleh teknologi kaset ini.
Umumnya kaset diputar menggunakan walkman atau radio yang memiliki fitur khusus untuk memainkan kaset tape. Walkman sendiri dikembangkan dan dirilis oleh Sony sekitar tahun 1979. Walkman memungkinkan seseorang membawa musik mereka kemanapun mereka pergi, asal juga membawa kasetnya.
Berkembang lagi, CD (Compact Disk) diperkenalkan pada tahun 1982. Prototipe dari CD dikembangkan oleh Phillips dan Sony pada akhir tahun 1970an. CD selanjutnya mengalahkan kaset tape karena popularitasnya dan kemudahannya untuk melewati beberapa lagu dan secara langsung menuju ke lagu yang ingin pemirsa dengar.
Orang mendengarkan musik menggunakan CD atau kaset terbatas hanya dapat diputar di rumah saja – terkecuali walkman, yang hanya dapat memutar beberapa lagu tanpa skip. Namun kekurangan dari dua media itu adalah syarat penggunaan kaset yang hanya memungkinkan kita mendengarkan beberapa musik dari, bisa jadi, dari satu grup band saja.
Setelahnya, karena perkembangan teknologi yang masif, muncul MP3 Player. Media ini memungkinkan kita mendengarkan lagu apapun dan dapat menampung banyak lagu (tergantung dari kapasitas memorinya) berbentuk digital dari komputer. MP3 diperkenalkan sebagai audio coding standard pada 1994 dan pada 1997 MP3 Player pertama di dunia, MPMan F10, dikembangkan oleh perusahaan Korea Selatan, SaeHan Information Systems.
Datangnya iPod pada 2001 di pasar merupakan sebuah penanda berubahnya masyarakat menikmati dan mendengarkan musik. iPod, tanpa perlu dijelaskan lebih detail, adalah sebuah produk Apple Inc yang termasuk dalam kategori “digital hub” Apple. iPod pertama dirilis lebih tepatnya pada 23 Oktober 2001, delapan setengah bulan setelah iTunes untuk Macintosh dirilis.
iPod touch dirilis pada 2007 dan merupakan perangkat musik pertama yang dapat terkoneksi dengan Wi-Fi sehingga penggunanya dapat terhubung dengan iTunes Store dan mengunduh lagu lalu mendengarkannya secara langsung. Mesin inilah yang akhirnya memprakarsarai aplikasi streaming musik mulai berkembang.
Para teknisi di berbagai perusahaan gawai seperti Nokia dan Sony Ericson pada masanya juga turut menyempurnakan dan melengkapi produk gawai mereka dengan fitur pemutar musik. Kelebihannya, memutar musik pun menjadi lebih praktis dalam satu genggaman. Namun begitu, masalahnya adalah gudang penyimpanan yang terbatas. Kita tak bisa menampung semua lagu pada satu gawai. Hanya musik yang kita unduh saja, dan selama ruang penyimpanan masih ada, yang dapat kita dengarkan.
Mungkin masalah ruang penyimpanan yang terbatas itulah yang akhirnya dilirik oleh banyak pengembang layanan musik streaming. Spotify, sebuah layanan untuk streaming musik, sebagai contoh, telah dikembangkan hampir bersamaan dengan iPod yaitu pada tahun 2006 di Stockholm, Swedia.
Aplikasi Spotify sendiri, diluncurkan pada 7 Oktober 2008. Menurut pendiri dan CEO-nya Daniel Ek, nama Spotify diambil dari gabungan kata “Spot” dan “Identify”. Ia mengaku bahwa pada awalnya, ketika memikirkan nama untuk perusahaan, Daniel Ek salah mendengarkan sebuah nama yang disebut oleh Martin Lorentzon, sebagai Spotify. Daniel lalu mencari kata “Spotify” dan menemukan hasil nihil dari nama tersebut. Ia pun akhirnya menggunakan nama Spotify. Dari mesin besar yang tak dapat dibawa kemanapun hingga aplikasi ringan yang dapat menyimpan jutaan lagu, cara kita mendengarkan musik sungguh telah berubah sepenuhnya.
Sekarang, semua orang dapat menikmati lagu yang mereka ingin dengarkan hanya dengan menggunakan kolom pencarian di Spotify atau YouTube dan klik tombol mainkan. Musik jenis apapun, di manapun, dan kapanpun selama kita memiliki jaringan internet dan terdaftar sebagai pelanggan, kita tak perlu repot membawa banyak alat atau mesin selain gawai pintar kita.
Evolusi perangkat untuk menikmati musik ini meneguhkan sebuah metafora kuno “Nanos gigantum humeris insidentes” yang berarti berdiri di atas pundak raksasa.
Sumber referensi
https://text-id.123dok.com/document/ozllgee6z-produksi-musik-digital-kajian-teori.html
http://www.dreamaria.com/semua-yang-perlu-diketahui-musisi-tentang-distribusi-musik/
https://kumparan.com/melysantoso/konsumsi-penjualan-dan-peringkat-musik-2019-dominasi-layanan-streaming-1srV7JzhaAN/2
Komentar
Posting Komentar